Tanpa Topeng
Di antara riuh tawa yang dulu kita rawat, ada jarak yang tumbuh pelan-pelan. Bukan karena benci, bukan karena salah siapa-siapa— hanya waktu yang diam-diam menggeser kita ke arah berbeda. Sapaan berubah seperlunya, candaan tak lagi menemukan tempat pulang. Aku belajar menjadi pelupa. Melupakan kebiasaan menunggu, melupakan obrolan panjang tanpa arah. Kupaksa diri untuk tidak lagi menoleh, meski kenangan masih berdiri di sudut yang sama. Melupakan ternyata bukan soal menghapus, melainkan tentang bertahan agar tidak kembali berharap. Namun masa lalu keras kepala. Ia datang lewat lagu lama di tengah malam, lewat kenangan yang tak sengaja terbuka, lewat aroma hujan yang mengingatkan pada percakapan yang tak selesai. Ia hadir lagi ..... di sampingku tanpa izin, mengulang adegan yang seharusnya telah usai. Lelah berlari, aku memilih berhenti. Memilih menyendiri bukan karena kalah, bukan pula karena kecewa sepenuhnya. Aku hanya ingin ruang di mana aku tak perlu menjelaskan diri, tak perl...