Tanpa Topeng


 Di antara riuh tawa yang dulu kita rawat,

ada jarak yang tumbuh pelan-pelan.

Bukan karena benci,

bukan karena salah siapa-siapa—

hanya waktu yang diam-diam

menggeser kita ke arah berbeda.

Sapaan berubah seperlunya,

candaan tak lagi menemukan tempat pulang.


Aku belajar menjadi pelupa.

Melupakan kebiasaan menunggu,

melupakan obrolan panjang tanpa arah.

Kupaksa diri untuk tidak lagi menoleh,

meski kenangan masih berdiri

di sudut yang sama.

Melupakan ternyata bukan soal menghapus,

melainkan tentang bertahan

agar tidak kembali berharap.


Namun masa lalu keras kepala.

Ia datang lewat lagu lama di tengah malam,

lewat kenangan yang tak sengaja terbuka,

lewat aroma hujan yang mengingatkan

pada percakapan yang tak selesai.

Ia hadir lagi ..... di sampingku tanpa izin,

mengulang adegan yang seharusnya telah usai.


Lelah berlari, aku memilih berhenti.

Memilih menyendiri bukan karena kalah,

bukan pula karena kecewa sepenuhnya.

Aku hanya ingin ruang

di mana aku tak perlu menjelaskan diri,

tak perlu tertawa saat hati sedang kosong,

tak perlu kuat hanya agar terlihat baik-baik saja.


Dalam sunyi,

aku mulai mengenal diriku sendiri.

Tanpa topeng, tanpa peran.

Tak ada yang harus kusembunyikan,

tak ada yang harus kubuktikan.

Aku bisa diam tanpa dianggap aneh,

bisa rapuh tanpa merasa rendah.

Persahabatan boleh renggang.

Masa lalu boleh datang sesekali.

Orang-orang boleh berubah arah.


Namun kini aku tahu—

pulang yang paling tenang

adalah kembali pada diri sendiri.

Dan ternyata,

menyendiri pun menyenangkan.

Karena di sana,

aku tidak sedang kehilangan siapa-siapa—

aku sedang menemukan diriku

yang tak lagi perlu topeng.


Karya: Anonim

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Silaturahmi Antar Sedulur Tegal (SIASAT) 2025: Meniti Langkah Bersama, Membangun Kenangan Selamanya

Pelantikan Pengurus Baru Dan Rapat Kerja IMT UIN Walisongo 2025/2026

Pekan Ramadhan IMT: Tebar Kebaikan di Bulan Keberkahan