Di Bawah Kuasa Kaki, Di Luar Genggam Hati
Dalam permainan sepak bola yang melibatkan dua puluh dua manusia, masing-masing berlari dengan tujuan yang sama yaitu, menguasai benda bulat yang tampak sederhana, namun diperebutkan dengan seluruh tenaga, emosi, dan akal. Setiap langkah memiliki strategi, setiap sentuhan mengandung ambisi. Ada yang harus jatuh bangun untuk meraihnya, ada pula yang seolah diberi jalan mulus. Sebagian memilih cara bersih, sebagian lain tak ragu untuk menghalalkan segala cara, sebab tujuan sering kali terasa lebih penting daripada cara.
Namun ironinya justru lahir setelah benda itu berhasil digenggam. Apa yang direbut dengan keringat dan luka, dilepas dalam satu sentuhan. Sebuah umpan, sebuah tendangan, atau sekadar dorongan ringan, lalu ia pergi, berpindah kaki, berpindah nasib. Tak ada yang benar-benar memilikinya terlalu lama.
Begitulah permainan berjalan, manusia mengejar, menguasai sesaat, lalu melepaskan. Ada yang melepas dengan kesadaran penuh, memahami bahwa permainan menuntut berbagi peran. Ada pula yang terpaksa, karena tekanan, karena aturan, atau karena kekuatan yang lebih besar memaksanya menyerah.
Sepak bola tak sekadar tentang menang atau kalah. Ia adalah potret kecil kehidupan tentang hasrat memiliki, tentang perjuangan, tentang ketidakabadian kepemilikan. Kita berlari mengejar sesuatu, menganggapnya tujuan akhir, padahal ia hanya singgah sebentar untuk kemudian kembali dikejar lagi dan lagi.
Karya: Esa Azriel Azzahra

Komentar
Posting Komentar