Custom Rom, sebuah Perlawanan terhadap Hegemoni Android

 


Kita semua mungkin sudah tahu tentang Android, sebuah sistem operasi yang pertama kali diperkenalkan oleh Andy Rubin pada 23 September 2008 silam. Ia yang merupakan seorang pencipta sistem tersebut juga sebelumnya telah mendirikan Android Inc. pada Oktober 2003 bersama Rich Miner, Nick Sears, dan Chris White dengan visi menciptakan sistem operasi pintar yang bersumber terbuka. Lalu setelah Google mengakuisisi Android Inc. pada tahun 2005, Rubin menjabat sebagai Senior Vice President of Mobile dan mengawasi pengembangan Android sebelum digantikan oleh Sundar Pichai pada tahun 2013. Alasan ia memberi nama Android karena kecintaannya dengan robot pada saat ia masih bekerja di Apple Inc. antara tahun 1989 hingga 1992.

Di tangan Google Inc., perjalanan Android kian berkembang, bahkan menjadi sistem operasi mobile paling banyak digunakan di era sekarang ini. Di mulai dari Android 1 pada tahun 2008, hingga sekarang Android 17 di tahun 2026 ini menandai bahwa sistem operasi tersebut telah melewati berbagai perkembangan teknologi yang teramat pesat. Ia membawa berbagai macam inovasi-inovasi terbaru, seperti AI dan UI contohnya. AI adalah sebuah kecerdasan buatan yang didasarkan untuk meniru perilaku manusia dalam berpikir, mendengar, bahkan berbicara. Sedangkan UI atau User Interface adalah sebuah elemen visual dan interaktif, seperti tombol, ikon, tata letak, dan warna yang mana memungkinkan pengguna berinteraksi dengan aplikasi, situs web, atau perangkat digital. UI berfokus pada estetika, kemudahan penggunaan, dan kejelasan tampilan agar interaksi yang dilakukan oleh kita menjadi menyenangkan dan memudahkan

Namun tentu, tak semua perjalanan itu berjalan mulus. Di tahun 2009, seseorang yang bernama Steve Kondik membuat CyanogenMod, sebuah projek rom kustom modifikasi (custom rom) yang berbasis Android yang lebih stabil, ringan, dan bersih dari bloatware. Alasan lain ia membuat projek tersebut bukanlah sebuah hobi semata, namun karena ia ingin Android menjadi sistem operasi yang bersih dan bebas dari bloatware karena AOSP (Android Open Source Project) bawaan milik Google dikenal memiliki bloatware aplikasi bawaan yang terkesan membuat sistem Android menjadi bloated. Bloatware atau bloated adalah aplikasi pra-instal (bawaan) pada komputer, laptop, atau smartphone yang seringkali tidak diinginkan pengguna, memakan ruang penyimpanan, membebani memori, dan dapat menurunkan kinerja perangkat. Aplikasi ini sering kali tidak bisa dihapus dengan mudah dan umumnya bertujuan untuk keuntungan dari produsen tersebut. Itulah alasan mengapa Steve Kondik serius dengan projek ini, meski awalnya hanya hobi semata.

Projek ini kemudian berkembang menjadi sebuah perusahaan komersial pada 2013 oleh dukungan dari komunitas dan kontributor Android, bernama Cyanogen Inc. Ia tetap berbasis Android, namun saat kita ingin menginstal-nya di perangkat Android, kita diberikan pilihan apakah Vanilla atau Gapps. Vanilla adalah sebuah istilah yang mana sebuah sistem operasi itu bersih dari berbagai aplikasi dan modifikasi tambahan, entah dari Google, ataupun vendor pihak ketiga (seperti Samsung misalnya). Sedangkan Gapps adalah singkatan dari Google Applications yang mana sebuah sistem operasi Android memiliki aplikasi tambahan dari Google itu sendiri, seperti Play Store, Google Mobile Service (GMS), dan lain sebagainya. Perbedaan utamanya tentu jika vanilla itu murni, sedangkan Gapps itu sudah terintegrasi dengan aplikasi Google.

Kepopulernya dari CyanogenMod pun mencapai akhir pada 2016, setelah perusahaan induknya tutup dan bangkrut karena kurangnya dukungan dari komunitas dan kontributor. Versi terakhir dari CyanogenMod adalah versi 13.0 dengan Android 6.0 Marshmallow sebagai fondasi utamanya. Namun, projek CyanogenMod ini kemudian bertransisi dan mengubah namanya menjadi LineageOS pada akhir tahun 2016, dengan versi pertamanya adalah 13.0 berbasis Android 6.0 dan rilis secara publik pada Januari 2017 dengan versi 14.1 berbasis Android 7.1 Nougat. Saat ini, LineageOS masih berjalan dan berkembang dengan versi terbarunya adalah versi 23.2 berbasis Android 16. Meski demikian, filosofi CyanogenMod sebagai sistem operasi yang bersih masih melekat pada LineageOS karena ia merupakan turunan langsung dari sistem operasi tersebut.

Dari sini kita belajar bahwa sebuah mahakarya umat manusia dapat dirusak oleh manusia itu sendiri. Ia dapat berjalan untuk memenuhi kebutuhan manusia, namun terkadang bisa memperalat manusia untuk kebutuhan dari sang mahakarya itu sendiri. Maka dari itu, perlunya ada perlawanan yang sepadan dan elok untuk melawan ketidaksesuaian tersebut. Meski ada resikonya, bahkan membunuh dirinya sendiri, namun ia tetaplah dikenang sebagai wujud penindasan dari hegemoni mahakarya itu sendiri agar kelak bisa berubah kearah yang lebih baik untuk umat manusia dan juga alam semesta.

 

Karya: Muhammad Ibnu Arobi, HKI 2024


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Silaturahmi Antar Sedulur Tegal (SIASAT) 2025: Meniti Langkah Bersama, Membangun Kenangan Selamanya

Pelantikan Pengurus Baru Dan Rapat Kerja IMT UIN Walisongo 2025/2026

Pekan Ramadhan IMT: Tebar Kebaikan di Bulan Keberkahan