Ramadhan sebagai Rekonsiliasi Sosial : IMT UIN Walisongo Ajak Mahasiswa Menjahit Kembali Persaudaraan di Tengah Perbedaan

 

foto bersama setelah diskusi wacana yang ke-3

Ikatan Mahasiswa Tegal (IMT) Komisariat UIN Walisongo Semarang telah menyelenggarakan kegiatan Diskusi Wacana pada hari Jumat, 13 Februari 2026, bertempat di Gedung Parkir lantai 3 samping Perpustakaan UIN Walisongo, Semarang. Kegiatan ini diikuti oleh anggota dan pengurus IMT dengan suasana yang berlangsung kondusif, penuh antusiasme, serta semangat kebersamaan.

Diskusi wacana dibuka oleh Putri Azmi Fauziah selaku moderator dengan mengucapkan salam serta memberikan pengantar terkait tema yang diangkat, yaitu “Ramadhan sebagai Rekonsiliasi Sosial: Menjahit Kembali Retakan Persaudaraan di Tengah Perbedaan Pandangan”. Setelah pembukaan, moderator memperkenalkan pemateri, yaitu Abdul Rozaq Jamil selaku DPO IMT Komisariat UIN Walisongo Semarang, yang akrab disapa Gus Ojak.

Dalam pemaparan awalnya, pemateri membacakan dan menegaskan kembali tema diskusi, kemudian memperkenalkan salah satu fenomena yang terjadi tahun lalu di Yogyakarta terkait perbedaan penetapan awal puasa Ramadhan. Beliau mengajak peserta diskusi untuk merefleksikan bagaimana sikap kita sebagai mahasiswa dalam menyikapi perbedaan tersebut, terutama ketika pemerintah telah menetapkan awal puasa, namun masih terdapat perbedaan di beberapa kalangan masyarakat dan organisasi kemasyarakatan seperti NU dan Muhammadiyah.

Pemateri menekankan bahwa perbedaan pandangan, baik dalam aspek keagamaan maupun politik, merupakan realitas yang tidak bisa dihindari. Perbedaan pilihan politik yang sering kali memecah belah masyarakat menjadi kubu-kubu tertentu seharusnya tidak sampai merusak tali persaudaraan. Dalam hal ini, pemateri menyampaikan bahwa dirinya menganut prinsip moderat (wasathiyah), tidak berlebihan dalam menyikapi sesuatu. Ia juga mengingatkan pepatah Arab, “Al-umuru bi maqashidiha” (segala sesuatu tergantung pada tujuannya), sehingga setiap sikap harus dilandasi niat baik dan tujuan yang jelas.

Di era media sosial saat ini, menurut beliau, seseorang sangat mudah di-framing, disalahpahami, bahkan dijatuhkan hanya karena perbedaan pandangan. Oleh karena itu, mahasiswa dituntut untuk bersikap bijak dan tidak mudah terprovokasi.

Pemateri juga membagikan pengalaman di sebuah desa yang memiliki perbedaan politik cukup kuat. Di desa tersebut, lurah berasal dari partai tertentu sementara mayoritas warga dari partai lain. Ketidakharmonisan muncul ketika lurah membangun masjid baru tanpa berkoordinasi dengan sesepuh desa, padahal sudah ada masjid utama sebagai pusat kegiatan. Hal ini memicu perpecahan hingga ke akar rumput karena kurangnya komunikasi dan sikap saling menghargai.

Padahal, dalam Islam telah ditegaskan bahwa “Innamal mu’minuna ikhwatun” (sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara). Islam memperkenalkan konsep persaudaraan yang kuat dan solusi yang jenius dalam menyelesaikan konflik. Mengutip teladan ulama seperti Hasan al-Basri, ketika dihina atau dicela, beliau justru membalas dengan kebaikan, memberi buah dan uang kepada orang yang menghina. Sikap ini berbeda dengan kebanyakan orang yang mudah terpancing emosi.

Pemateri juga mengingatkan pesan tokoh nasional seperti KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang menekankan pentingnya menjaga kemanusiaan dan persaudaraan di atas kepentingan golongan.

Adapun langkah-langkah yang dapat dilakukan dalam menyikapi perbedaan menurut pemateri adalah:

1. Mengedepankan sikap husnudzon (berprasangka baik).

2. Mendiskusikan perbedaan dengan kepala dingin dan mengedepankan islah (perdamaian).

3. Memanfaatkan momentum Ramadhan untuk saling memaafkan dan menahan hawa nafsu melalui puasa sebagai perisai diri.

Beliau juga menyampaikan pepatah bijak, “Cintailah kekasihmu sekadarnya, siapa tahu suatu saat ia menjadi orang yang kamu benci. Dan bencilah seseorang sekadarnya, siapa tahu suatu saat ia menjadi orang yang kamu cintai.”. Hal ini menjadi pengingat agar tidak berlebihan dalam menyikapi perasaan dan perbedaan.

Dalam penutupnya, pemateri menegaskan bahwa ketika menghadapi perbedaan, langkah pertama adalah memaafkan orang yang tidak menyukai kita, ketika dibicarakan tetap bersabar, dan pada akhirnya mendoakan mereka. Ramadhan harus menjadi momentum untuk memperkuat ukhuwah dan menjahit kembali retakan persaudaraan.

Dengan terselenggaranya diskusi ini, diharapkan anggota IMT Komisariat UIN Walisongo Semarang mampu menjadi mahasiswa yang moderat, bijak dalam menyikapi perbedaan, serta mampu menghadirkan nilai-nilai rekonsiliasi sosial di tengah masyarakat.

Rep/Red: Baehaki Firdaus Afiatun Putra/Akmal

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Silaturahmi Antar Sedulur Tegal (SIASAT) 2025: Meniti Langkah Bersama, Membangun Kenangan Selamanya

Pekan Ramadhan IMT: Tebar Kebaikan di Bulan Keberkahan

Pelantikan Pengurus Baru Dan Rapat Kerja IMT UIN Walisongo 2025/2026