Budaya Viral dan Dampaknya terhadap Perilaku Masyarakat di Era Digital
Di era digital saat ini, saya menyadari bahwa fenomena
viral telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari
masyarakat. Melalui media sosial seperti TikTok, Instagram, dan X, informasi
dapat menyebar dengan sangat cepat dan menjangkau berbagai lapisan masyarakat. Apa
yang awalnya hanya berupa unggahan sederhana dapat berubah menjadi topik
nasional yang memengaruhi opini publik, sikap sosial, bahkan perilaku individu.
Menurut pengamatan saya, budaya viral terbentuk dari
kombinasi antara perilaku pengguna media sosial dan sistem algoritma platform
digital. Konten yang mengandung unsur emosional, sensasional, atau
kontroversial cenderung lebih mudah menarik perhatian dan dibagikan secara
luas. Hal ini sejalan dengan pandangan Berger (2013) yang menyatakan bahwa
emosi memiliki peran penting dalam mendorong seseorang untuk menyebarkan suatu
konten. Dalam konteks ini, masyarakat bukan hanya sebagai penerima informasi,
tetapi juga sebagai agen aktif yang mempercepat penyebaran viralitas.
Dari sisi positif, budaya viral memberikan dampak yang
cukup signifikan dalam meningkatkan kesadaran sosial. Saya melihat banyak isu
penting, seperti kasus ketidakadilan sosial, kampanye kemanusiaan, atau edukasi
publik, menjadi perhatian luas karena viral di media sosial. Jenkins (2009)
menjelaskan bahwa budaya partisipatif memungkinkan masyarakat untuk terlibat
secara aktif dalam penyebaran informasi dan pembentukan makna bersama. Dengan
demikian, budaya viral dapat berfungsi sebagai alat kolektif untuk membangun
solidaritas dan kepedulian sosial.
Namun, di balik manfaat tersebut, saya juga melihat sisi
gelap dari budaya viral. Informasi yang belum tentu benar seringkali menyebar
lebih cepat dibandingkan klarifikasi atau fakta yang valid. Fenomena
perundungan digital dan cancel culture menjadi contoh nyata bagaimana
opini publik yang terbentuk secara viral dapat merugikan individu tertentu.
Kaplan dan Haenlein (2010) menekankan bahwa media sosial memiliki kekuatan
besar dalam membentuk persepsi, tetapi juga berpotensi menimbulkan dampak
negatif jika tidak digunakan secara bijak. Dalam banyak kasus, masyarakat lebih
terdorong untuk ikut berkomentar atau membagikan konten tanpa mempertimbangkan
dampak psikologis dan sosialnya.
Melalui refleksi ini, saya menyimpulkan bahwa budaya
viral merupakan fenomena yang tidak bisa dihindari di era digital. Oleh karena
itu, yang dibutuhkan bukanlah penolakan terhadap budaya viral, melainkan sikap
kritis dan bertanggung jawab dalam menghadapinya. Literasi digital menjadi hal
yang sangat penting agar masyarakat mampu memilah informasi, memahami konteks,
serta menyadari konsekuensi dari setiap tindakan di ruang digital. Dengan sikap
tersebut, budaya viral diharapkan tidak hanya menjadi sarana hiburan, tetapi
juga media pembelajaran dan refleksi sosial yang membawa dampak positif bagi
masyarakat.
Karya: Muhammad Firdaus (BPH)
Komentar
Posting Komentar