Membedah Fenomena Feodalisme dan Hegemoni dalam Dunia Pesantren di Era Post-Truth
Semarang, imtwalisongo.blogspot.com. Pada hari Rabu, 29 Oktober 2025 telah dilaksanakan diskusi bareng Departemen Wacana yang bertema “Pesantren di Tengah Isu Viral: Antara Sorotan Publik dan Perannya dalam Membentuk Karakter Bangsa". Kegiatan ini diikuti oleh anggota dan pengurus IMT yang bertempat di samping Audit 2 Kampus 3 UIN Walisongo Semarang.
Achmad Zulfa Asycar Pratama selaku moderator membuka acara kegiatan di sore hari itu. Ia menyampaikan, "Seperti yang kita tahu bahwa berita tentang santri akhir-akhir ini sempat viral dan ditayangkan di televisi. Video tersebut memperlihatkan santri yang sedang jongkok mengantri untuk bersalaman kepada Kyai. Mungkin bagi yang bukan anak pondok, video itu terlihat tidak beradab.”. Dari situ kemudian muncul stigma dari mereka yang bukan anak pondok, yang sekarang disebut dengan istilah feodalisme.
Feodalisme itu semacam keadaan di mana ada golongan tinggi dan golongan rendah, yang mana golongan rendah harus tunduk kepada golongan yang lebih tinggi.
Selanjutnya, M. Asy’ari Mughni, S.Ag. selaku pemateri menyampaikan, "Sebelum membahas lebih jauh, penting untuk mengkaji sejarah pondok pesantren dari masa ke masa, serta melihat bagaimana sudut pandang publik terhadap isu-isu viral yang berkaitan dengan pesantren.". Beliau juga mengajak peserta untuk berpikir; kita ini hidup di era apa sebenarnya?
M. Asy’ari Mughni menjelaskan, “Kita sekarang hidup di era post-truth, yaitu masa setelah kebenaran. Secara terminologi, post-truth berarti ketika realitas dan kebenaran tidak lagi digunakan untuk mempengaruhi opini, tetapi justru opini dibentuk berdasarkan emosi dan kepentingan.”.
Beliau mengutarakan bahwa pesantren merupakan konsep pendidikan yang berlandaskan idealisme, dengan kajian-kajian seperti sorogan, bandongan, dan lain sebagainya. Ia juga menjelaskan tentang makna 'terhegemoni' di lingkungan pondok, yaitu ketika seseorang menjadi manusia satu dimensi individu yang dimodifikasi agar seragam dan tidak memiliki ruang untuk bersuara bebas.
Di akhir penyampaian, M. Asy’ari Mughni mengingatkan agar dalam melihat berita atau isu yang beredar, kita tidak langsung menilainya dari sudut pandang subjektif. “Kita harus objektif, jangan asal ikut-ikutan, dan jangan cepat menghakimi fakta dari pandangan sendiri,” tegasnya.
Beliau juga memberi semangat kepada para mahasiswa untuk terus menjaga nilai-nilai intelektual.
“Sendiri kita baca buku, berdua berdiskusi, bertiga kita aksi,” tutup M. Asy'ari Mughni.
Rep. Yoga Wijaya / Red. Akmal.

Komentar
Posting Komentar